Gaya Kepemimpinan

Menggunakan Gaya Yang Tepat Bagi Situasi Anda

Dari Mahatma Gandhi hingga Jack Welch dan Martin Luther King to Rudolph Giuliani, ada banyak gaya kepemimpinan seperti halnya ada banyak pemimpin. Untungnya, ahli bisnis dan psikolog telah mengembangkan cara yang berguna dan singkat untuk menggambarkan gaya kepemimpinan utama yang bisa membantu pemimpin beraspirasi untuk memahami dan mengadaptasi gaya dan dampak kepemimpinan mereka sendiri.

Apakah anda mengelola sebuah tim dalam pekerjaan, memimpin tim olahraga, atau memimpin perusahaan besar, gaya kepemimpinan anda sangat penting bagi kesuksesan anda. Sadar atau dibawah sadar, anda akan menggunakan gaya kepemimpinan berikut ini, setidaknya sewaktu-waktu. Memahami gaya kepemimpinan dan dampaknya akan membantu anda dalam mengembangkan dan mengadaptasi gaya kepemimpinan anda sendiri dan juga membantu anda menjadi pemimpin yang lebih efektif.

Artikel ini membantu anda memahami 10 gaya kepemimpinan yang paling sering dibicarakan, ada yang baik, dan ada yang tidak.

1. Autocratic leadership/ Kepemimpinan Otokratis

Adalah bentuk ekstrim dari kepemimpinan transaksional dimana pemimpin memiliki kekuasaan yang absolute atas karyawan atau timnya. Karyawan dan anggota tim memiliki sedikit peluang untuk memberikan saran, bahkan ketika saran itu demi kebaikan organisasi

Kebanyakan orang tidak suka diperlakukan seperti ini. Karena itu, kepemimpinan otokratis biasanya mengarah pada tingkat absentisme dan pergantian karyawan yang tinggi. Untuk beberapa pekerjaan rutin dan tidak terlatih, gaya ini bisa bertahan efektif di mana manfaat dari kendali jauh melebih kelemahannya.

2. Bureaucratic Leadership/ Kepemimpinan Birokratis

Pemimpin birokratis bekerja “berdasarkan aturan”, memastikan staf mereka mengikuti prosedur secara tepat. Ini adalah gaya yang sangat tepat dalam melibatkan resiko keamanan yang serius (seperti mengoperasikan mesin, dengan substansi beracun atau pada ketinggian) atau dimana ada sejumlah uang yang besar terlibat (seperti penanganan uang kas)

3. Charismatic leadership/ Kepemimpinan Karismatis

Gaya kepemimpinan karismatis dapat terlihat mirip dengan kepemimpinan transformasional, dimana pemimpin menyuntikkan antusiasme tinggi pada tim, dan sangat enerjik dalam mendorong untuk maju. Namun demikian, pemimpin karismatis cenderung lebih percaya pada dirinya sendiri daripada timnya. Ini bisa menciptakan resiko sebuah proyek atau bahkan organisasi akan kolaps bila pemimpinnya pergi. Selain itu kepemimpinan karismatis membawa tanggung-jawab yang besar, dan membutuhkan komitmen jangka panjang dari pemimpin.

4. Democratic Leadership or Participative Leadership/ Kepemimpinan Demokratis atau Partisipatif

Walaupun pemimpin demokratis adalah pengambil keputusan akhir, ia mengajak yang lain untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini tidak hanya meningkatkan kepuasan kerja dengan melibatkan karyawan atau anggota tim dalam apa yang terjadi tetapi juga membantu pengembangan keterampilan seseorang. Karyawan dan anggota tim merasa mengendalikan masa depan mereka sendiri, seperti promosi yang mereka harapkan, dan juga termotivasi untuk bekerja keras untuk lebih dari sekedar imbalan financial.

Mengingat partisipasi membutuhkan waktu, pendekatan ini bisa menyebabkan sesuatu terjadi lebih lambat, akan tetapi sering hasilnya akan lebih baik. Pendekatan ini paling cocok untuk pekerjaan dimana kerja tim adalah penting, dan kualitas lebih penting daripada kecepatan atau produktifitas.

5. Laissez-faire Leadership /Kepemimpinan Bebas

Kata bahasa Perancis ini berarti “biarkanlah” dan digunakan untuk menggambarkan pemimpin yang membiarkan karyawannya untuk bekerja. Hal ini bisa efektif bila pemimpin memonitor apa yang dicapai dan mengkomunikasikan kembali pada timnya secara teratur. Seringkali, kepemimpinan Laissez-Faire berguna bagi tim dimana individu yang ada sangat berpengalaman dan terampil. Sayangnya, ini juga bisa berarti situasi di mana manajer kurang menunjukkan kendali.S

6. People-Oriented Leadership or Relations-Oriented Leadership/ Kepemimpinan Berorientasi Orang atau Hubungan

Gaya kepemimpinan ini adalah kebalikan dari kepemimpinan berorientasi tugas: pemimpin secara total berfokus pada mengorganisir, mendukung, dan mengembangkan orang dibawah kepemimpinannya. Sebuah gaya partisipatif, yang cenderung mengarah pada kerja tim yang baik dan kolaborasi yang kreatif.

Dalam praktek, kebanyakan pemimpin menggunakan kepemimpinan berorientasi tugas maupun orang

7. Servant Leadership

Istilah ini dicetuskan oleh Robert Greenleaf di tahun 1970an, yang menggambarkan seorang pemimpin yang umumnya tidak dianggap secara formal sebagai pemimpin. Ketika seseorang, di setiap level organisasi, memimpin dengan memenuhi kebutuhan timnya, dinamakan sebagai pemimpin yang melayani.

Dalam banyak hal, kepemimpinan pelayan adalah bentuk dari kepemimpinan demokratis, karena seluruh tim cenderung terlibat dalam pengambilan keputusan.

Pendukung dari model kepemimpinan pelayan mengatakan hal ini adalah cara yang penting untuk maju dalam dunia dimana nilai semakin penting, dimana pemimpin pelayan mencapai kekuatan sebagai dasar dari nilai dan idealisme mereka. Yang lain percaya bahwa dalam situasi kepemimpinan yang kompetitif, orang yang mempraktekkan kepemimpinan pelayan akan sering tertinggal dengan gaya kepemimpinan yang lain.

8. Highly task-oriented leader / Pemimpin yang sangat berorientasi tugas

Kepemimpinan yang sangat berorientasi tugas berfokus hanya pada menyelesaikan pekerjaan, dan bisa jadi sangat otokratis. Ia akan secara aktif mendefinisikan tugas dan peran yang diperlukan, menempatkan struktur, merencanakan, mengorganisir dan memonitor. Namun demikian, seorang pemimpin berorientasi tugas tidak banyak meluangkan waktu untuk kesejahteraan tim, pendekatan ini bisa mengalami banyak kelemahan yang ada pada kepemimpinan otokratis, dengan kesulitan untuk memotivasi dan mempertahankan staf. Pemimpin berorientasi tugas dapat menggunakan Blake-Mouton Managerial Grid untuk membantu dalam mengidentifikasi wilayah pengembangan spesifik yang akan membantu mereka melibatkan orang lain lebih sering.

9. Transactional Leadership/ Kepemimpinan Transaksional

Gaya kepemimpinan ini dimulai dari pemikiran bahwa anggota tim setuju untuk mengikuti pemimpin mereka dengan total ketika mereka melakukan pekerjaan: transaksinya umumnya adalah perusahaan memberikan imbalan pada anggota tim atas upaya dan ketaatan mereka. Anda memiliki hak untuk “menghukum” anggota tim bila pekerjaan mereka tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan sebelumnya.

Anggota tim hanya bisa sedikit memperbaiki kepuasan kerja dibawah kepemimpinan transaksional. Pemimpin dapat memberikan anggota tim beberapa kendali atas pendapatan/imbalan mereka dengan menggunakan insentif yang mendorong standar lebih tinggi yang mendorong standar yang lebih tinggi atau produktifitas yang lebih besar. Alternatifnya seorang pemimpin transaksional bisa mempraktekkan “manajemen berdasarkan pengecualian.” Di mana ketimbang memberi imbalan atas pekerjaan yang dilakukan lebih baik, ia bisa melakukan langkah perbaikan jika standar yang diminta tidak dipenuhi.

Kepemimpinan transaksional sebenarnya adalah cara mengelola gaya kepemimpinan yang sebenarnya ketika fokusnya adalah pada tugas jangka pendek. Kepemimpinan ini memiliki keterbatasan serius bagi pekerjaan yang berbasis pengetahuan atau kreatif, tetapi tetap merupakan gaya yang biasa dalam banyak perusahaan.

10. The transformational leadership / Kepemimpinan Transformasional

Seseorang dengan gaya kepemimpinan ini adalah seorang pemimpin nyata yang menginspirasi timnya secara konstan dengan visi masa depan bersama. Mereka tidak serta merta memimpin di depan, karena mereka cenderung mendelegasikan kewajiban pada tim. Walaupun antusiasme mereka seringkali menular, mereka umumnya butuh dukungan dari “orang-orang detil”

Di banyak organisasi, baik kepemimpinan transaksional maupun transformasional sama-sama dibutuhkan. Pemimpin transaksional memastikan pemimpin dan manajer bahwa pekerjaan rutin dikerjakan dengan handal, sedangkan pemimpin transformasional mencari inisiatif bernilai tambah.

Gaya kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan dominant yang diajarkan dalam :program kepemimpinan ”Bagaimana Memimpin: Menemukan Pemimpin dalam Diri Anda.” , walaupun kami juga merekomendasikan untuk menggunakan gaya kepemimpinan yang lain berdasarkan tuntutan situasi.

Menggunakan Gaya Yang Tepat – Kepemimpinan Situasional

Walaupun kepemimpinan transformasional sering sangat efektif, tidak ada satu cara “Benar” untuk memimpin atau mengelola yang sesuai dengan segala situasi. Untuk memilih pendekatan yang paling efektif anda perlu mempertimbangkan:

  • Tingkat keterampilan dan pengalaman tim anda.
  • Pekerjaan yang dilakukan (rutin atau baru dan kreatif)
  • Lingkungan organisasional (stabil atau berubah radikal, konservatif atau penuh petualangan)
  • Gaya alami pilihan anda.

Seorang pemimpin yang baik akan beralih gaya secara intuisi sesuai dengan orang dan pekerjaan yang ditangani. Ini seringkali disebut dengan “kepemimpinan situasional.” Misalnya, manajer dari pabrik kecil melatih operator mesin menggunakan gaya birokratis untuk memastikan operator mengetahui prosedur yang menghasilkan standar yang benar dari kualitas produk dan keselamatan kerja. Manajer yang sama bisa mengadopsi gaya yang lebih partisipatif ketika melakukan perbaikan lini produksi dengan timnya.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: